Apakah Teknologi Blockchain Bisa Digunakan Tanpa Cryptocurrency?

Apakah Teknologi Blockchain Bisa Digunakan Tanpa Cryptocurrency?

Teknologi blockchain yang semakin berkembang. Sejak semakin populernya cryptocurrency, rasa penasaran terhadap cara kerja blockchain pun bertambah. Enggak hanya di kalangan para IT geeks saja, tetapi masyarakat awam juga terindikasi semakin familier dengan perkembangan teknologi ini.

Lalu, apakah penggunaan teknologi blockchain ini hanya berhenti pada cryptocurrency saja?

Nah, ini menarik. Pasalnya, sebenarnya teknologi blockchain itu multiguna banget. Yuk, ikuti uraiannya berikut ini.

Apa Itu Teknologi Blockchain?

Blockchain adalah suatu bentuk teknologi yang dimanfaatkan sebagai sistem penyimpanan data digital yang diamankan dengan kode kriptografi.

Penamaan blockchain terkait dengan cara kerja teknologi ini sendiri, yang dengan memanfaatkan sumber daya teknologi tinggi kemudian terciptalah serangkaian blok yang terhubung satu sama lain dalam sebuah rantai. Rantai blok ini lantas dipergunakan untuk mengeksekusi transaksi-transaksi virtual yang terjadi. Dengan adanya sistem jaringan ini, teknologi ini mampu berjalan dengan sendirinya tanpa ada campur tangan otoritas mana pun.

5 Cryptocurrency yang Booming Tahun 2021 Q2 dan Perlu Masuk dalam Watchlist

Apakah Teknologi Blockchain Bisa Berjalan Tanpa Cryptocurrency?

Blockchain tanpa cryptocurrency adalah buku besar terdistribusi yang menyimpan data yang terkait dengan non fungible token (NFT), inisiatif rantai pasokan, metaverse, dan banyak lagi.

Meskipun Bitcoin (BTC) adalah aplikasi yang paling dikenal dari buku besar yang terdesentralisasi atau blockchain ini, tetapi ada juga berbagai macam penggunaan teknologi blockchain lainnya. Misalnya, teknologi blockchain dapat digunakan di berbagai layanan keuangan termasuk pengiriman uang, aset digital, dan pembayaran online karena memungkinkan pembayaran diselesaikan tanpa bank atau perantara lainnya.

Baca juga:  Investasi Bitcoin ala Elon Musk: Bagaimana Strategi Terbaiknya?

Selain itu, generasi berikutnya dari sistem interaksi internet ini, termasuk di dalamnya ada smart contract, sistem reputasi, layanan publik, Internet of Things (IoT), dan layanan keamanan adalah beberapa aplikasi yang paling menjanjikan yang bisa dilakukan oleh teknologi blockchain.

Blockchain tanpa cryptocurrency mengacu pada buku besar terdistribusi yang melacak status database bersama di berbagai pengguna. Basis data dapat mencakup sejarah transaksi cryptocurrency atau data pemungutan suara rahasia yang terkait dengan pemilihan. Misalnya, yang tidak dapat diperbarui atau dihapus setelah ditambahkan.

Oleh karena itu, teknologi blockchain tidak hanya relevan dengan cryptocurrency. Blockchain, bagaimanapun, terutama berkaitan dengan penyimpanan informasi yang terdesentralisasi dan konsensus aset digital tertentu, yang bisa ataupun tidak bisa hanya berupa cryptocurrency.

Jadi, apa saja yang bisa dilakukan oleh teknologi blockchain?

Idealnya, teknologi blockchain memiliki potensi untuk menggantikan model bisnis yang bergantung pada pihak ketiga dan sistem terpusat. Misalnya, NFT yang awalnya diperkenalkan di jaringan Ethereum pada akhir 2017 dan merupakan salah satu inovasi di luar cryptocurrency yang berkaitan dengan kekayaan intelektual.

Apakah Teknologi Blockchain Bisa Digunakan Tanpa Cryptocurrency?

Apakah Blockchain Membutuhkan Cryptocurrency untuk Bisa Berjalan?

Hanya blockchain publik yang membutuhkan cryptocurrency berfungsi, sedangkan blockchain yang sifatnya private atau pribadi tidak membutuhkannya.

Blockchain publik dan private adalah dua jenis blockchain yang berbeda. Blockchains publik tanpa izin, memungkinkan siapa saja untuk bergabung dengan jaringan dan berpartisipasi dalam jaringannya. Blockchain pribadi, di sisi lain, tidak memiliki desentralisasi, dan hanya bisa dijalankan oleh satu organisasi saja.

Permissionless blockchain, seperti halnya jaringan blockchain Bitcoin, memberikan reward pada miner atau penambang untuk menyelesaikan perhitungan matematika yang kompleks. Insentif ini, yang sering diberikan dalam bentuk token asli jaringan, adalah motivator untuk sistem secara keseluruhan dan, khususnya, sebagai sarana untuk mencapai konsensus.

Baca juga:  Problematika Smart Contract di Indonesia: Lebih Banyak Positif atau Negatif?

Karena penambangan Bitcoin memberi insentif kepada para pesertanya, ribuan komputer saat ini pun dimungkinkan terlibat di jaringannya. Dengan menghilangkan reward cryptocurrency, motivasi untuk menjalankan node dan berpartisipasi dalam mekanisme konsensus penambang akan menurun, yang meningkatkan risiko pencurian kripto.

Contoh blockchain pribadi termasuk Hyperledger dan Corda. Linux Foundation menciptakan Hyperledger Project, yang menggunakan blockchain pribadi untuk membuat buku besar terdistribusi yang mendukung transaksi komersial yang dirahasiakan.

Proyek blockchain yang diizinkan lainnya yang dikembangkan oleh R3 disebut Corda, dan ditujukan untuk perusahaan yang ingin mengembangkan jaringan terdistribusi yang dapat dioperasikan dengan transaksi swasta. Dalam project ini, tidak ada bentuk reward cryptocurrency, karena dijalankan oleh perusahaan terpusat.

Ini Dia 5 Tempat Cryptocurrency Trading Terbaik Saat Ini yang Cocok untuk Trader Pemula

Bisakah Berinvestasi di Blockchain tanpa Membeli Cryptocurrency?

Tidak ada cara langsung untuk berinvestasi di blockchain, selain dengan cryptocurrency. Namun, ada pilihan lain sih. Yaitu berinvestasi dalam startup berbasis blockchain.

Industri blockchain menawarkan banyak peluang karena banyak pengguna dan organisasi ingin merampingkan prosedur perusahaan. Juga berbagai tujuan lain, seperti mempercepat transaksi, meningkatkan keamanan dan transparansi, dan menggunakan blockchain as a service (BaaS). Kamu bisa saja berinvestasi di perusahaan yang menawarkan BaaS ini, seperti IBM atau Microsoft kalau mau investasi di teknologi blockchain tanpa melalui cryptocurrency.

Selain itu, kamu dapat membeli saham perusahaan yang mengembangkan solusi blockchain untuk mendapatkan paparan tidak langsung ke teknologi terdistribusinya, tanpa melakukan investasi cryptocurrency.

Nah, banyak kan, caranya?

Rantai pasokan adalah salah satu area di mana blockchain memiliki dampak yang signifikan. Misalnya, kamu dapat melacak tanaman kembali ke perkebunan, tempat pertama kalinya ditanam dengan cara menelusuri catatan publik yang disimpan dalam buku besar blockchain ini.

Baca juga:  Tron Coin: Bagaimana Cara Kerjanya dan Cara Belinya

Manufaktur, transportasi, dan pengiriman barang daur ulang pemetik limbah ke fasilitas atau stasiun daur ulang semuanya dapat dilacak dengan buku besar yang didistribusikan. Dan, kamu dimungkinkan untuk dapat berinvestasi di perusahaan yang bekerja di bidang ini, jika ingin berinvestasi di blockchain tanpa cryptocurrency.

Baik berinvestasi secara langsung atau tidak langsung dalam startup berbasis blockchain, waspadai risiko seperti gangguan teknis, hard fork, ataupun potensi terjadinya human error. Jangan pernah mengambil risiko lebih dari yang kamu mampu tanggung ya.

Bisakah Smart Contract Berjalan tanpa Teknologi Blockchain?

Teknologi blockchain diperlukan oleh smart contract untuk berfungsi karena memungkinkan perjanjian otomatis dilakukan tanpa adanya keterlibatan pihak ketiga.

Mirip dengan smart contract, sistem basis data dapat memiliki komponen yang dieksekusi sendiri seperti pemicu dan prosedur tersimpan. Namun, siapa pun yang memiliki hak administrator dapat membatalkan transaksi yang terjadi, bisa juga membersihkan log transaksi, dan lain sebagainya. Kalau ini terjadi, maka tidak akan ada rekaman yang berarti seperti tidak ada yang terjadi.

So, blockchain akan selalu diperlukan oleh smart contract, yang harus aman dan tahan kerusakan. Sayangnya, smart contract yang rumit tidak didukung oleh Bitcoin, cryptocurrency paling populer.

Itu dia beberapa hal mengenai teknologi blockchain dan kaitannya dengan cryptocurrency dan smart contract. Semoga bisa memberi sedikit gambaran tambahan mengenai cara kerja teknologi multiguna ini ya.