Perusahaan Kripto yang Bangkrut dan Bagaimana Nasib Investor Kripto Kini?

Perusahaan Kripto yang Bangkrut dan Bagaimana Nasib Investor Kripto Kini?

Dunia kripto sedang dilanda musim dingin. Sampai dengan artikel ini ditulis, posisi bitcoin masih pada USD 22.000-an per koinnya. Kalau dilihat secara historikal, nilai ini sudah cukup menguat dibandingkan sehari sebelumnya kemarin berada di kisaran USD 20.000. Mengikuti pasar kripto yang masih juga belum beranjak dari harga bawah, sejumlah perusahaan kripto dikabarkan mengajukan kepailitan.

Siapa saja sih, yang menyatakan diri bangkrut di tengah musim dingin dunia kripto ini? Coba yuk, kita lihat!

Celsius Network: Biang Kerok Jatuhnya Cryptocurrency (?)

Perusahaan Kripto yang Bangkrut

Celsius Network

Celsius Network mengajukan kepailitan di Distrik Selatan New York baru-baru ini, dengan mencatatkan defisit hingga USD 1 miliar lebih, setelah sebulan sebelumnya membekukan transaksi dan withdrawal aset. Yang menjadi alasannya adalah karena kondisi pasar yang dalam kondisi ekstrem.

Dalam pengajuan kepailitannya ini, perusahaan kripto ini mengaku adanya klaim sejumlah USD 40 juta kepada Three Arrows Capital, yang telah lebih dulu mengajukan kepailitan di awal bulan.

Three Arrows Capital

Atau yang sering disebut 3AC ini merupakan hedge fund kripto yang berkantor pusat di Singapura. Mereka telah mengajukan kebangkrutan di awal Juli 2022, lantaran terkena imbas krisis likuiditas hingga gagal membayar utang.

Mereka telah rugi sebesar USD 400 juta akibat krisis yang terjadi.

Compass Mining

Compass Mining adalah salah satu perusahaan kripto yang kehilangan fasilitasnya di Maine AS, yang pemiliknya mengakhiri perjanjian secara sepihak. Kabarnya, Compass Mining tak bisa membayar tak kurang tagihan listrik yang sudah terpakai untuk menambang kripto, utilitas, dan biaya hosting. Antara Compass Mining dan perusahaan hosting kini tengah berseteru lantaran ada ketidakcocokan data pembayaran tersebut.

Baca juga:  Smart Contract Tron: Apa Itu, dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Voyager Digital

Voyager Digital merupakan perusahaan pemberi pinjaman kripto, yang menyatakan diri bangkrut setelah juga menghentikan fitur penarikan dan penyetoran. Perusahaan kripto ini mengaku punya uang tunai sejumlah USD 167 juta sebagai likuiditas, sebagai pendukung dalam proses restrukturisasi utangnya.

Vebitcoin

Vebitcoin merupakan perusahaan kripto dalam bentuk exchange atau bursa. Perusahaan yang berbasis di Turki ini telah menghentikan segala aktivitasnya awal tahun 2021, malahan. Empat orang di balik nama Vebitcoin ditangkap atas tuduhan penipuan, dan aparat pun memblokir platform kripto tersebut.

Theodex

Masih dari Turki, dan nyaris sama dengan kasus Vebitcoin, perusahaan kripto berbentuk bursa ini juga mengalami masalah keuangan yang kemudian berbuntut laporan pada pihak berwajib. Beberapa orang kabarnya masih dalam perburuan hingga saat ini, setelah aparat memblokir platform dan menggerebek kantor pusatnya di Istanbul.

Begini Cara Investasi Bitcoin di Indodax Paling Mudah untuk Pemula

Efek Crypto Winter

Mata uang kripto diciptakan dengan tujuan yang baik, yaitu untuk memfasilitas pihak-pihak yang sering melakukan aktivitas di dunia virtual dan membutuhkan alat pembayaran yang dapat digunakan secara virtual dengan lebih baik. Cryptocurrency dikembangkan dalam jaringan blockchain, secara terdesentralisasi sehingga bebas perantara yang memungkinkannya berbiaya murah dan bersifat peer to peer.

Sudah pasti, efek crypto winter ini buruk bagi perusahaan kripto. Tak hanya secara organisasi, kita bayangkan saja karyawannya yang juga harus kehilangan pekerjaan akibat perusahaan kripto terkait harus bangkrut.

Saat pasar sedang bearish dalam, banyak investor yang memilih untuk mengurangi atau bahkan menghentikan aktivitas investasinya. Pendapatan perusahaan kripto pun berkurang, yang kemudian berakibat mereka terpaksa harus mengurangi beban operasional. Salah satu beban operasional yang bisa dipangkas adalah karyawan. Pahit memang.

Hal ini jugalah yang terjadi pada Coinbase. Meski belum bangkrut—dan semoga tidak perlu menambah panjang daftar perusahaan kripto yang bangkrut—Coinbase diketahui telah menerapkan pemutusan hubungan kerja pada sebanyak 18% dari total karyawan full time.

Baca juga:  Altcoin: Pengertian, Sejarah, dan Jenisnya yang Penting untuk Dikenali

Crypto winter juga pastinya akan membawa dampak buruk bagi investor. Apa dampak buruknya? Ya, pasti semua juga sudah tahu, yaitu kerugian massal.

Lebih khusus lagi ketika ada perusahaan kripto bangkrut, maka aset investor yang sudah disetorkan akan ditahan. Biasanya, investor juga menempati urutan terakhir untuk bisa mendapatkan pembagian asetnya. Perusahaan kripto tersebut akan memprioritaskan alokasi aset yang masih ada untuk melunasi utang pada kreditur. Setelah utang beres dan masih ada sisa aset, baru deh investor dapat mengklaim aset masing-masing. Itu pun bisa jadi tak sepenuhnya bisa kembali. Skema ini sama persis dengan skema yang ada dalam investasi saham ketika ada emiten yang bangkrut atau delisting.

Perusahaan Kripto yang Bangkrut dan Bagaimana Nasib Investor Kripto Kini?

Berinvestasilah dengan Bijak!

Fenomena crypto winter seperti ini sebenarnya bukan hal yang baru terjadi pertama kali di tahun 2022 ini. Malahan, hal ini lumrah sekali. Karena itu, sebenarnya investor tidaklah perlu untuk panik, dan sebaiknya refocusing pada jangka panjang alih-alih melakukan trading jangka pendek. Pasang surut sudah sering terjadi di pasar kripto.

Justru kesempatan ini seharusnya dimanfaatkan sebagai reminder, agar kita selalu berhati-hati dalam memilih instrumen investasi, terutama untuk instrumen dengan risiko ekstrem seperti kripto. Lakukan diversifikasi, selain kripto, milikilah juga aset investasi jenis lainnya, seperti saham, obligasi, properti, dan sebagainya. Dengan begitu, saat satu instrumen anjlok nilainya, kamu tak mengalami kerugian sepenuhnya, karena ada instrumen lain yang menopang portofoliomu. Bagaimanapun, aset berisiko tinggi juga penting untuk masuk ke dalam portofolio, untuk dimanfaatkan volatilitasnya—terutama saat sedang bullish.

Lalu, kapankah fenomena ini akan berakhir?

Yah, mari kita lihat saja. Yang pasti, buat kamu yang percaya bahwa pada setiap penurunan pasti akan diakhiri dengan kenaikan pasti akan lebih sabar menghadapi fase yang sekarang sedang terjadi.

Baca juga:  Apa itu Smart Contract? Inilah Pengertian dan Contohnya!